arindhaayuningtyas

Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial

Posted on: Mei 3, 2012

https://arindhaayuningtyas.files.wordpress.com/2012/05/history-id.jpg?w=300

Sejarah dan ilmu-ilmu social mempunyai hubungan timbal balik. Sejarah diuntungkan oleh ilmu-ilmu social, dan sebaliknya. Belajar sejarah tidak dapat dilepaskan dari belajar ilmu-ilmu social, meskipun sejarah punya cara sendiri menghadapi objeknya.perlu diingat juga bahwa sejarah dan ilmu-ilmu social mempunyai tujuan yang berbeda. Tujuan sejarah ialah mempelajari hal-hal yang unik, tunggal, ideografis, dan sekali terjadi; sedangkan ilmu-ilmu social tertarik kepada yang umum, ajek, nomotetis, dan merupakan pola. Pendekatan sejarah berbeda dengan ilmu-ilmu social. Sejarah itu diakronis, memanjang dalam waktu, sedangkan ilmu-ilmu social itu sinkronis, melebar dalam ruang. Sejarah mementingkan proses, sementara ilmu-ilmu social menekankan struktur.

Kegunaan Sejarah untuk Ilmu-Ilmu Sosial

  1. Sejarah sebagai kritik terhadap generalisasi ilmu-ilmu social
  2. Permasalahan sejarah sempat menjadi permasalahan ilmu-ilmu social
  3. Pendekatan sejarah yang bersifat diakronis menambah dimensi baru pada ilmu-ilmu social yang sinkronis

Kegunaan Ilmu-Ilmu Sosial untuk Sejarah

            Pengaruh ilmu-ilmu social pada sejarah dapat kita golongkan ke dalam empat macam, yaitu :

  1. Konsep

Bahasa Latin conceptus berarti gagasan atau ide. Sadar atau tidak, sejarawan banyak menggunakan konsep ilmu-ilmu social.

  1. Teori

Bahasa Yunani theoria berarti, di antaranya “kaidah yang mendasari suatu gejala, yang sudah melalui verifikasi”.

  1. Permasalahan

Dalam sejarah banyak sekali permasalahan ilmu-ilmu social yang dapat diangkat jadi topic-topik penelitian sejarah. Soal seperti mobilitas social, kriminalitas, migrasi, gerakan petani, budaya istana, kebangkitan kelas menengah, dsb.

  1. Pendekatan

Sebenarnya semua tulisan sejarah yang melibatkan penelitian suatu gejala sejarah dengan jangka yang relative panjang (aspek diakronis) dan yang melibatkan penelitian aspek ekonomi, masyarakat, atau politik (aspek sinkronis) pastilah memakai juga pendekatan ilmu-ilmu social.

Meskipun demikan, penggunaan ilmu-ilmu social dalam sejarah itu bervariasi. Variasi itu ialah :

  1. Yang menolak sama sekali

Mereka berpendapat :

  1. Bahwa penggunaan ilmu-ilmu social akan berarti hilangnya jati diri sejarah sebagai ilmu yang diakui keberadaannya, jadi sejarah cukup dengan common sense (akal sehat, nalar umum, akal sehari-hari) dan penggunaan dokumen secara kritis.
  2. Penggunaan ilmu-ilmu social hanya akan menjadikan sejarah sebagai ilmu yang tertutup secara akademis dan personal.
    1. Yang menggunakan secara implicit
    2. Yang menggunakan secara eksplisit

 

Sosiologi

            Spesialisasi dalam sosiologi, seperti sosiologi keluarga, sosiologi desa, dan sosiologi kota; teori-teori sosiologi, seperti strstifikasi, revolusi, kekuasaan; konsep-konsep sosiologi, seperti mobilitas social, perubahan social, dan solidaritas; semuanya perlu dikuasai untuk menulis sejarah social.

Ilmu Politik

            Dalam ilmu politik di antaranya ada istilah-istilah political culture, organisasi, system politik, demokrasi, konstitusi, bargaining, birokrasi, karisma, dan patron-client, kepemimpinan, dan korupsi.

Antropologi

            Di sini akan ditekankan pada symbolic anthropology meskipun ada social anthropology, political anthropology, dan economic anthropology. Konsep-konsep yang perlu diketahui, diantaranya ialah symbol, system kepercayaan, folklore, tradisi besar, tradisi kecil, enkulturasi, inkulturasi, primitive, dan agraris.

Ekonomi

            Ada pertanyaan, siapakah yang berhak menulis sejarah ekonomi: ekonom atau sejarawan? Jawabannya ialah siapa saja termasuk orang di luar dua disiplin itu yang menguasai kaidah-kaidah penelitian ekonomi dan sejarah. Sejarawan yang akan melakukan penulisan sejarah ekonomi, harus menguasai konsep-konsep ilmu ekonomi, meskipun sederhana. Konsep-konsep seperti ekonomi makro, ekonomi mikro, ekonomi pembangunan, pemasaran, inflasi, devaluasi, agio, upah, gaji, biaya, bunga, nilai tambah, harga, dan sewa harus dikuasai.

Demografi

            Yang harus diketahui oleh sejarawan, yang bukan demographer, demografi sebenarnya masih dalam jangkauan. Dengan membaca buku-buku demografi orang akan mendapat feeling apa yang termasuk permasalahan demografi. Konsep-konsep sederhana, seperti perkembangan penduduk, sensus, proyeksi, fertilitas, moralitas, umur, jenis kelamin, dan migrasi harus dikenal.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: