arindhaayuningtyas

Pendidikan Sebagai Ilmu dan Sebagai Sistem

Posted on: Mei 3, 2012

https://i0.wp.com/www.hekaleka.com/wp-content/uploads/2012/04/education-one-liner.jpg

A.     Pendidikan Sebagai Ilmu
Menurut Driyarkara, pendidikan adalah fenomena yang fundamental atau asasi dalam kehidupan manusia. Kita dapat mengatakan, bahwa di mana ada kehidupan manusia, bagaimanapun juga di situ pasti ada pendidikan (Dwi Siswoyo, 2008: 28). Sedangkan menurut Soedomo, satu hal yang menjadi jelas dan apa yang disebut pendidikan adalah upaya sadar untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki manusia.
Teori pendidikan menurut Ernest E. Bayles, adalah berkenaan tidak hanya dengan apa yang ada, tetapi bahkan banyak juga dengan apa yang harus ada. Sebagai teori yang dikembangkan secara sadar dalam kaitannya dengan upaya pendidikan, maka teori pendidikan memiliki keunikan tersendiri apabila dibandingkan dengan teori penjelas yang memandang pendidikan semata-mata sebagai gejala atau sebagai fenomena atau sebagai fakta.
Berikut ini adalah pendapat sejumlah ahli tentang apa yang dimaksud dengan ilmu pendidikan:
1.      Menurut M. J. Langeveld (1955), paedagogiek(ilmu mendidik atau ilmu pendidikan) adalah suatu ilmu yang bukan saja menelaah objeknya untukmengetahui betapa keadaan atau hakiki objek itu, melainkan mempelajari pula betapa hendaknya bertindak.
2.      Menurut S. Brodjonagoro (1966: 35), ilmu pendidikan atau paedagogiek adalah teori pendidikan, perenungan tentang pendididkan.
3.      Menurut Cater V. Good (1945: 36), ilmu pendidikan adalah suatu bangunana pengetahuan yang sistematis mengenai aspek-aspek kuantitatif, objek dan proses belajar, menggunakan instrument secara seksama dalam mengajukan hipotessis-hipotesis pendidikan untuk diuji dan pengalaman, seringkali dalam bentuk eksperimental.
4.      Menurut Imam Barnadib (1987: 7), ilmu pendidikan adalah ilmu yang membicarakan masalah-masalah umum pendidikan secara menyeluruh dan abstrak.
5.      Menurut Driyarkara (1980: 66-67), ilmu pendidikan adalah pemikiran ilmiah (pemikiran yang bersifat kritis, metodis dan sistematis) tentang realitas yang kita sebut pendidikan.
Dari uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:
1.      Ilmu pendidikan adalah ilmu yang menelaah fenomena pendidikan dalam perspektif yyang luas dan integrative.
2.      Fenomena pendidikan ini bukan hanya merupakan gejala yang melekat pada manusia (gejala yang universal), dalam perspektif yang luas, melainka juga sekaligus merupakan upaya untuk memanusiakan menusia agar menjadi sebenar-benarnya manusia(insane), yang hal ini secara integrative diperlukan menggunakan berbagai kajian tentang pendidikan (kajian historis, filosofis, psikologis, dan sosiologis).
3.      Upaya pendidikan mencakup keseluruhan aktivitas pendidikan (mendidik dan dididik) dan pemikiran yang sistematik tentang pendidikan.
 
1.      Persyaratan Pendidikan sebagai Ilmu
Suatu kawasan studi dapat tampil atau menampilkan diri sebagai suatu disiplin ilmu, bila dipenuhi setidak-tidaknya tiga syarat, yaitu:
a.       Memiliki objek studi (objek material dan objek formal)
b.      Memiliki sistematika
c.       Memiliki metode
Yang menjadi objek material ilmu pendidika adalah perilaku manusia. Objek formal ilmu pendidikan adalah menelaah fenomena pendidikan dalam perspektif yang luas dan integrative.
Secara teoritik sistematika ilmu pendidikan dapat dibedakan menjadi tiga segi tinjauan, yaitu:
a.       Melihat pendidikan sebagai gejala yang manusiawi
b.      Dengan melihat pendidikan sebagai upaya sadar
c.       Dengan melihat pendidikan sebagai gejala manusiawi, sekaligus upaya sadar dengan mengantisipasi perkembangan sosio-budaya di masa depan
Sistematika yang pertama, pendidian sebagai gejala, dapat dianalisis dan proses atau situasi pendidikan, yaitu adanya komponen-komponen pendidikan yang secara terpadu saling berinteraksi dalam suatu rangkaian keseluruhan kebulatan kesatuan dalam mencapai tujuan. Komponene-komponen pendidikan itu adalah:
a.       Tujuan Pendidikan
b.      Peserta didik
c.       Pendidik
d.      Isi Pendidikan
e.       Metode Pendidikan
f.       Alat Pendidikan
g.      Lingkungan Pendidikan
Sistematika yang kedua, pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia. Sistematika yang kedua ini menurut Noeng Muhadjir (1987: 19-37) bertolak dan fungsi pendidikan, yaitu:
a.       Menumbuhkan kreatifitas peserta didik (pendidikan kreatifitas)
b.      Menjaga lestarinya nilai-nilai insane dan nilai-nilai ilahi (pendidikan moralitas)
c.       Menyiapkan tenaga kerja produktif (pendidikan produktifitas)
Sistematika yang ketiga melihat pendidikan sebagai gejala manusiawi sekaligus sebagai upaya sadar dengan mengantisipasi konteks perkembangan sosio-budaya di masa depan. Sehubungan dengan ini Mochtar Buchori (1994: 81-86) ilmu pendidiakn memiliki tiga dimensi yang dapat kita bedakan sebagai sistematika ilmu pendidikan, yaitu:
a.       Dimensi lingkungan pendidikan
b.      Dimensi jenis-jenis persoalan pendidikan
c.       Dimensi waktu dan ruang
Selanjutnya syarat ketiga bagi disiplin ilmu, yaitu memiliki metode. Dalam arti kata sesungguhnya, maka metode adalah cara atau jalan. Metode-metode yang dapat dipakai untuk ilmu pendidikan sebagai berikut (Soedomo, 1990: 46-47; Mub, Said, 1989):
a.       Metode Normatif
Metode berkenaan dengan konsep manusia yang diideaalkan yang ingin dicapai oleh pendidikan. Metode ini juga menjawab pertanyyan yang berkenaan denga masalah nilai baik dan nilai buruk.
b.      Metode Eksplanatori
Metode ini bersangkut paut dengan  pertanyaan tentang kondisi dan kekuatan apa yang membuat suatu proses pendidikan berhasil.
c.       Metode Teknologis
Metode ini mempunyai fungsi untuk menungkapkan bagaimana melakukannya dalam rangka menuju keberhasilan pencapaian tujuan-tujuan yang diinginkan.
d.      Metode Deskriptif-Fenomenologis
Metode ini mencoba menguraikan kenyataan-kenyataan pendidikan dan kemudian mengklasifikasikan sehingga ditemukan yang hakiki.
e.       Metode Hermeneutis
Metode ini untuk memahami kenyataan pendidikan yang konkrit dan historis untuk menjelaskan makna, struktur dan kegiatan pendidikan.
f.       Metode Analisis Kritis (Filosofis)
Metode ini menganalisis secara kritis tentang istilah-istilah, pernyataan-pernyataan, konsep-konsep dan teori-teori yang ada atanu digunakan dalam pendidikan. Syarat lain bagi disiplin ilmu pendidikan adalahmemiliki evidensi empiris, yaitu adanya kesesuaian (korespondensi) antara konsepsi teoritisnya dengan permasalahan-permasalahan dalam praktek sehingga di samping dapat menjelaskan kasus-kasus yang timbul, juga sekaligus dapat mendukung diaplikasikannya dalam menjawab permasalahan pendidikan di lapangan, dalam lingkup kajian ilmu pendidikan.
 
2.      Sifat-sifat Ilmu Pendidikan
Pendidikan sebagai ilmu bersifat empiris, rokhaniah, normative, historis, teoritis, dan praktis (Sutari Imam Barnadib, 1984: 15-19).
Ilmu pendidikan bersifat empiris karena objeknya dijumpai dalam dunia pengalaman. Ilmu pendidikan bersifat rokhaniah, karena situasi pendidikan berdasar atas tujuan manusia tidak membiarkan peserta didik kepada keadaan alamnya, melainkan memandangnya sebagai makhluk susila dan ingin membawanya kea rah manusia susila yang berbudaya.
Ilmu pendidiakn bersifat normative, karena berdasar atas pemilihan antara yang baik dan buruk untuk peserta didik pada khususnya dan manusia pada umumnya. Ilmu pendidiakn bersifat historis, karena memberikan uraian teoritis tentang system-sistem pendidikan sepanjang jaman dengan mengingat latar belakang kebudayaan dan filsafat yang bepengaruh pada jaman-jaman tertentu.
Ilmu pendidikan bersifat teoritis, karena memberikan pemikiran yang tersusun secara teratur dan logis tentang masalah-masalah dan ketentuan-ketentuan pendidikan. Ilmu pendidikan juga bersifat praktis, karena memberika pemikiran tentang masalah dan ketentuan-ketentuan pendidikan yang langsung ditujukan kepada perbuatan mendidik.
 
3.      Pengembangan Pendidikan
Secara hierarkhis ilmu pendidiakan memiliki dasar sekaligus juga sebagai sumbernya, yakni filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan dan ilmu pendidikan, oleh Brubacher (1962: 18) dipandang sebagai “complementary disciplines”. Namun dalam pengambangan ilmu pendidikan, di samping berdasar pada dan bersumber dari filsafat pendidikan, juga dapat diperkaya dengan mengkaji fondasi-fondasi pendidikan. Uraian berikut ini akan menyajikan apa fondasi-fondasi pendidikan itu. Fondasi-fondasi pendidikan adalah studi tentang fakta-fakta dan prinsip-prinsip dasar yang melandasi pancarian kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik pendidikan yang berharga dan efektif. Prinsip-prinsip itu adalah dasar untuk dibangunnya rumah pendidikan. Jika dasar itu adalah substansial, sandaran dan struktur iu kemungkinan akan kuat, dan sebaliknya (Standard W. Reitman, 1977: 10).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: