arindhaayuningtyas

Konsep Dasar Ilmu Sosial

Posted on: Mei 3, 2012

http://www.wired.com/images_blogs/photos/uncategorized/2007/08/08/social_science_cover.jpg

Kita tidak dapat membayangkan jika kehidupan manusia tidak berada dalam masyarakat (sosial). Karena manusia adalah makhluk sosial, mereka tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Manusia membutuhkan orang lain untuk  bisa bertahan hidup (survive). Kesalingketergantungan itu akan menjadikan suatu kerja sama yang bersifat tetap dan menghasilkan bentuk masyarakat tertentu.

Secara keilmuan, terdapat banyak teori tentang masyarakat maupun sosial. Sebelum lahirnya teori-teori sosial raksasa, seperti Thomas Hobbes (yang dikenal dengan teori individualisme instrumental dengan diktumnya homo homini lupus), Adam Smith yang dikenal teori sistem sosial dengan invisible hand-nya tentang system yang terintegrasi, Karl Marx yang dikenal dengan teori konflik dan kekuasaan, Durkheim yang dikenal dengan teori struktur dan fungsi, Max Weber yang dikenal dengan teori tindakan sosial dan birokrasi rasional, serta Alfred Schutz yang dikenal dengan pendekatan fenomenologisnya(Campbell, 1994:61-231).

            Mereka semua telah memberikan kontribusi yang bermakna dalam memahami, apa itu manusia dan apa itu masyarakat manusia? Karena hingga sekarang tidak ada teori sosial yang disetujui bersama.

            Konsep kita mengenai sosial(masyarakat) pun mendasar bagi pemahaman diri kita sendiri. Dengan kata-kata Aristoteles, manusia adalah seekor hewan sosial, yakni bahwa ia tidak bisa hidup terus di luar sebuah kelompok sosial, tetapi apakah kita tergantung pada masyarakat kita hanya sebagai  dukungan dari luar untuk pemeliharaan kehidupan pribadi kita, ataukah kita tidak memiliki kehidupan lepas dari hubungan-hubungan social kita? Bagaimana kita menjawab pertanyaan tersebut tidak lepas dari gambaran yang kita miliki tentang masyarakat atau sosial(Campbell, 1994:7).

            Istilah sosial (social dalam bahasa Inggris) dalam ilmu sosial memiliki arti yang berbeda-beda, misalnya istilah sosial dalam sosialisme dengan istilah Departemen Sosial, jelas keduanya mailiki arti yang sangat jauh berbeda. Menurut Soekanto (1993: 464) istilah sosial pun berkenaan dengan perilaku interpersonal, atau yang berkaitan dengan proses-proses sosial.

            Secara keilmuan, masyarakat yang menjadi objek kajian ilmu-ilmu sosial, dapat dilihat sebagai sesuatu yang terdiri dari berbagai segi. Dilihat dari segi ekonomi, akan membahas tentang usaha-usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan materialnya dari bahan-bahan yang terbatas ketersediaannya. Sedangkan dari segi politik, berhubungan dengan penggunaan kekuasaan dalam masyarakat. Berbeda dengan psikologi sosial, yang pada hakikatnya mempelajari perilaku manusia sebagai individu secara sosial. Selain itu terdapat antropologi budaya yang lebih menekankan pada masyarakat dan kebudayaannya, dan begitu seterusnya untuk ilmu-ilmu sosial lainnya, seperti geografi sosial, sejarah, maupun sosiologi.

            Istilah ilmu sosial menurut Ralf Dahrendorf, seorang ahli sosiolog Jerman dan penulis buku Class and Class Conflict in Industrial Society yang dikenal sebagai pencetus Teori Konflik Non-Marxis, merupakan suatu konsep yang ambisius untuk mendefinisikan seperangkat disiplin akademik yang memberikan perhatian pada aspek-aspek kemasyarakatan manusia. Ilmu-ilmu sosial, mungkin istilah tersebut merupakan bentuk yang lebih tepat. Ilmu-ilmu sosial mencakup sosiologi, antropologi, psikologi, ekonomi, geografi sosial, politik, bahkan sejarah walaupun di satu sisi ia termasuk ilmu humaniora (Dahrendorf, 2000: 999).

            Istilah ilmu sosial tidak begitu saja dapat diterima di tengah-tengah kalangan akademisi. Sciences Sociale dan Sizialwissenschaften adalah istilah-istilah yang lebih mengena, meski keduanya juga membuat “menderita” karena diinterpretasikan terlalu luas maupun terlalu sempit (Dahrendorf, 2000: 1000). Ironisnya, ilmu sosial yang dimaksud sering hanya untuk mendefinisikan sosiologi, atau hanya teori sosial sintetis.

            Berjalannya waktu tidak banyak membantu dalam mengusahakan diterimanya konsep itu. Ilmu-ilmu sosial tumbuh dari dari filsafat moral. Di kalangan filsuf moral Skotlandia, kajian ekonomi politik selalu diikuti oleh kajian isu-isu sosial yang lebih luas, meski tidak disebut sebagai ilmu sosial. Comte menyebutnya science social, dari Charles Fourier (1808), untuk mendeskripsikan keunggulan disiplin sintetis dari bangunan ilmu. Sedikitpun ia tidak ragu bahwa metode ilmu sosial sama sekali tidak berbeda dengan ilmu-ilmu alam.

            Ternyata penggunaan metode ilmu sosial yang digagas oleh Comte tersebut cukup mengaburkan gambaran metodologis tentang ilmu-ilmu sosial. Sistem sosial memiliki empat subsistem, yakni ekonomi, politik, budaya, dan system integratif. Dengan demikian, ekonomi, ilmu politik, kajian budaya, dan integrasi sosial (sosiologi) merupakan disiplin yang berhubungan dan interdependen. Turunan dari sistem sosial, yakni semua subsistem tersebut memerlukan analisis yang serupa.

            Pandangan beberapa ahli tentang ilmu-ilmu sosial, tidak sepesimis Ralf Dahrendorf, namun ia pun tetap kritis terhadap pandangan-pandangan yang menyeret ilmu sosial. Untuk ilmu kealaman (sains) yang kemudian sering didefinisikan sebagai pencarian hukum-hukum mengenai alam yang tetap benar, mengatasi segala ruang dan waktu (Wallerstein, 1997: 4). Sedangkan untuk ilmu-ilmu sosial, Wallerstein lebih menekankan pada suatu perilaku sosial yang menekankan jauh melebihi kearifan secara turun-temurun dan merupakan hasil deduksi dari padatnya pengalaman hidup manusia sepanjang zaman.

 

LUAS LINGKUP ILMU-ILMU SOSIAL

 

            Mengenai luas lingkup ilmu-ilmu sosial, sampai sekarang ini para ahli sebenarnya tidak ada kesepakatan yang bulat. Wallerstein (1997: 2) mengelompokkan beberapa disiplin ilmu yang dikategorikan sebagai ilmu sosial itu adalah sosiologi, antropologi, geografi, ekonomi, sejarah, psikologi, hukum, dan ilmu politik.Brown dalam karyanya yang berjudul Explanation in Social Sciences(1972) bahwa yang termasuk dalam paket ilmu sosial meliputi sosiologi, antroplogi, ekonomi, sejarah, demografi, ilmu politik, dan psikologi.

Meskipun beda, tetapi semuanya mengarah kepada pemahaman yang sama bahwa ilmu sosial adalah ilmu yang mempelajari perilaku dan aktivitas sosial dalam kehidupan bersama. Dalam perkembangannya, berbagai spesialisasi disiplin ilmu-ilmu sosial tumbuh meningkat, seperti ilmu komunikasi, studi gender, ilmu perbandingan agama, dan sebagainya (Sairin, 2006: 33). Adapun nama-nama itu sebagaimana akan didiskusikan, terutama mulanyaada beberapa disiplin ilmu sosial, yaitu ilmu sejarah, ilmu ekonomi, sosiologi dan ilmu politik (Wallerstein, 1997: 22).

 

 

  1. Sosiologi

Sosiologi merupakan ilmu yang mengkaji/menstudi tentang masyarakat ataupun kehidupan sosial. Karena semua ilmu sosial mempelajari tentang pola tingkah laku yang lazim ada pada kelompok-kelompok manusia. Sosiologi berasal dari kata socius, artinya kawan ataupun masyarakat. Sedangkan logos, artinya ilmu pengetahuan/pikiran. Berarti secara sederhana sosiologi adalah ilmu tentang masyarakat.

b.   Antropologi

      Seperti halnya sosiologi, terdapat beberapa pengertian tentang antropologi. Isinya meliputi archeology, antrologi ragawi,sejarah kebudayaan, beberapa bagian linguistic serta berbagai kajian tentang berbagai aspek kemanusiaan. Antropologi memiliki keterkaitan dengan ilmu pengetahuan alam, khususnya biologi(Spencer, 1982). Subjek antropologi adalah budaya dengan berbagai sistem simbulnya, meliputi bahasa dan kepercayaan.

c.   Psikologi

      Psikologi sering disebut sebagai ilmu pengetahuan tentang diri manusia, meliputi proses mental, kemauan, mental, kecerdasan, dan emosional. Semuanya bukan hanya dipengaruhi oleh proses kejiwaan, namun juga oleh warisan biologi dan lingkungan (Spencer, 1982).

d.   Ilmu Politik

      Sekitar 30 atau 40 tahun yang lalu, ilmu politik selalu menekankan pada upaya bagaimana menjadikan pemerintahan itu stabil dan lebih efisien, tetapi saat ini telah berubah kea rah menuju politik social, artinya saat ini lebih menekankan kepada tingkah laku politik suatu golongan masyarakat, latar belakang sosial politik, dan bagaimana kesadaran politik timbul dari suatu kelompok masyarakat (Spencer, 1982).

e.   Ilmu Sejarah

Setiap orang tentu memahami tentang sejarah merupakan kajian masa lampau. Dengan ilmu sejarah diharapkan dapat menghadirkan kembali peristiwa masa lampau secara hidup dan benar. Ilmu sejarah berbeda dengan ilmu sosial lain, karena dalam sejarah bukan mencari generalisasi suatu peristiwa melainkan hendak mencatat secara detail, menggambarkan seolah-olah cerita itu terulang lagi untuk kita hayati.

f.    Ilmu Ekonomi

      Ilmu ekonomi lebih menekankan kepada faktor produksi dan distribusi barang serta jasa. Sajian yang lain dari ilmu ekonomi adalah untuk menganalisis arah pertumbuhan keuangan dan kaitannya dengan harga. Banyak pula ahli ekonomi yang memusatkan perhatiannyakepada ketenagakerjaan serta kesejahteraan yang dapat dicapai oleh setiap individu.

  1. Geografi

Tekanan ilmu geografi mengkaji hubungan antara manusia dengan lingkungan alamnya. Para ahli geografi sering melakukan kajiannya tentang objek yang sempit misalnya minakat (zone), kawasan (area), dan yang luas misalnya daerah (district), maupun wilayah (region). Juga kajiannya menyangkut permaslahan ekologi, ataupun berbagai aktivitas ekonomi di lokasi yang berbeda lingkungan alamnya. Secara garis besar geografi merupakan ilmu yang unik, sebagian berupa kajian sosial, dan sebagian lagi merupakan kajian natural (Spencer, 1982).

 

SUMBANGAN ILMU SOSIAL DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT

            Sumbangan ilmu sosial terhadap masyarakat sangatlah banyak. Seperti telah dibahas pada konsep dasar ilmu sosial, bahwa kehidupan manusia berada dalam masyarakat. Karena setiap individu tidak dapat hidup sendiri, manusia membutuhkan orang lain. Oleh karena itu manusia dikatakan sebagai makhluk sosial. Dari istilah itu saja kita dapat mengerti bahwa ilmu sosial telah memiliki keterkaitan dengan masyarakat dari hal sekecil itu. Kemudian berkembang dengan hal-hal yang lebih kompleks.

Dalam kehidupannya, manusia mengalami berbagai proses-proses sosial, yaitu interaksi sosial. Bahkan beberapa ahli sosiologi berpendapat bahwa interaksi sosial tersebut merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, menyangkut hubungan secara perorangan, antar kelompok manusia, maupun antara perorangan dengan kelompok manusia (Gilin dan Gilin, 1954: 489: Soekanto, 1986: 51).

Berlangsungnya suatu proses interaksi sosial yang didasarkan pada berbagai faktor, dan menurut Soekanto (1986: 52) disebabkan melalui imitasi, sugesti, identifikasi, dan simpati. Faktor-faktor tersebut dapat bergerak sendiri-sendiri secara terpisah maupun dalam keadaan yang bergabung.

Dalam terjadinya interaksi sosial harus melalui adanya kontak sosial dan komunikasi. Sebab semua itu tidak sekadar tergantung dari tindakan, melainkan juga adanya tanggapan terhadap tindakan tersebut, baik negatif maupun positif.

Peran ilmu sosial juga mengacu pada berbagai bidang dan aspek. Di antaranya, dalam sosiologi, sumbangannya terhadap ilmu sosial adalah dapat dengan jelas menganalisis interelasi dan interaksi sosial, kemudian ada antropologi, psikologi, ilmu politik, ilmu sejarah, ilmu ekonomi, dan geografi.

Ilmu sosial sangat mempengaruhi bagaimana proses kehidupan manusia berlangsung. Karena tanpa adanya peranan ilmu sosial, manusia tidak dapat saling berinteraksi dengan makhluk lain, dan tidak dapat mengaitkannya dengan berbagai ilmu yang lain.

 

Kesimpulan : Ilmu sosial lahir karena manusia tidak dapat hidup sendiri, dan mereka membutuhkan satu sama lain untuk bertahan hidup dan hidup sebagai manusia. Oleh karena itu manusia disebut sebagai makhluk sosial. Dalam kehidupannya manusia sangat dipengaruhi oleh ilmu sosial, tentang bagaimana proses kehidupan manusia berlangsung. Manusia membutuhkan kontak sosial dalam bentuk interaksi sosial yang terdiri dari imitasi, sugesti, identifikasi, dan simpati. Ilmu sosial juga memiliki ruang lingkup dalam ilmu-ilmu lain, di antaranya sosiologi, antropologi, psikologi, ilmu politik, ilmu sejarah, ilmu ekonomi, dan geografi.

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: